Rabu, Desember 31, 2008

Karya dalam gambar



Leadership: CHARACTER & COMMUNITY BUILDING - LAVERNA LAMPUNG.

Membangun kebersamaan yang solid: One for All, All for One - Siap menerima sanksi bersama sang Kapten demi meneruskan perjuangan membangun Character yang ultimate. (gb1); berjuang melewati spider web di tengah malam....(gb2); Bahkan berani minum piala kepahitan (bg3); Arus sungai yang deras dan malam yang gelap dan dingin menggigit...tidak mampu mengalahkan kekuatan kepercayaan diri...(gb4);....Dan kalau kepercayaan diri sudah memuncak dalam tekad...teman yang cukup berat pun mampu diangkat hanya dengan dua jari...! (gb5)
CHARACTER BUILDING & COMMUNITY BUILDING

(P. Christianus Hendrick SCJ)

PENGERTIAN:

Dalam kamus ilmiah populer istilah character building/karakter building dijelaskan secara singkat sebagai PEMBANGUNAN ATAU PEMBINAAN WATAK. Kata KARAKTER sendiri diartikan sebagai watak,tabiat, pembawaan, kebiasaan. Watak bisa juga diartikan hal-hal atau segala sesuatu yang menjadi sifat bawaan seseorang yang bersifat permanen, intens, dan penuh dalam dirinya serta menjadi ciri khas pribadi seseorang yang membedakan dirinya dengan yang lain (sifat yang unik dan mendasar dalam diri seseorang). Dalam hal ini, maka pengertian character lebih dari sekedar cara bicara, cara jalan atau ciri ciri fisik yang menunjukkan kekhasan seseorang; Character lebih menyangkut gaya hidup/life style, cara berpikir dan bertindak dengan pola tertentu, cara seseorang mengambil keputusan, soal komitment diri, cara pandang terhadap sesuatu dan penghayatan perilaku yang kontinue dan konsisten yang ada dalam diri seseorang. Keseluruhan sifat-sifat itu pada akhirnya menyatu dalam diri seseorang dan membentuk perilaku pribadi tertentu yang menunjukkan kekuatan dirinya yang khas dan tak tergantikan oleh yang lain.

Character ini tidak menyangkut sifat-sifat bawaan seseorang sejak lahir. Oleh karenanya Character ini bisa dibentuk dan diarahkan sesuai dengan situasi yang membentuknya dan bisa berkembang sesuai dengan tingkat umur, kemampuan intelektualitas dan situasi lingkungan seseorang. Berbeda dengan corak fisik yang merupakan pembawaan sejak lahir (cara tertawa, gaya berjalan, bentuk tubuh, cara marah dan jenis suara) yang sulit diubah, maka character seseorang ( cara mengendalikan emosi, cara mengambil keputusan, kesadaran memegang komitment, sampai cara bertindak dan berperilaku) dapat dibangun dan dibentuk sesuai dengan keinginan seseorang dan dapat dijadikan permanen dalam dirinya menjadi suatu gaya hidup yang kuat dan berpengaruh dalam dirinya. Seorang wanita yang cenderung berperilaku “tomboy” misalnya, dapat diubah dan dibentuk baru ketika orang tersebut tinggal lama dalam lingkungan yang serba feminim dan dibantu dengan kesadaran baru akan citra dirinya sebagai wanita; pelan-pelan dapat berubah pada pola-pola hidup yang lebih feminim.

Hal-hal yang menyangkut pengolahan character, yang pada akhirnya disebut sebagai pembinaan atau pebangunan character, mencakup hal-hal yang mendasar seperti sifat jujur, bertanggungjawab, keberanian, kemampuan kerjasama, berpikiran positif, berwawasan luas, pengendalian diri yang dewasa dan matang, kesadaran untuk mensyukuri hidup, penerimaan diri, cintakasih,dll. Sifat atau sikap diri semacam itu dapat diolah dan dipelajari untuk pada akhirnya membantu orang mengembangkan kemampuan diri secara maksimal dan mengarahkan orang pada sikap dan gaya hidup yang baik bagi dirinya dan orang lain di sekitarnya.

Berdasarkan pengertian tersebut, maka Character building berarti suatu upaya membangun character yang baik melalui pembinaan yang terencana dan konsisten demi mengembangkan kemampuan untuk memiliki sifat jujur, berani, bertanggungjawab, setia dan kreatif, baik hati dan peka terhadap segala sesuatu, semangat cintakasih dan pengampunan, berpikiran positif, serta memiliki kedewasaan dan kemandirian dalam bersikap dan bertindak.
Pemahaman yang kurang lebih sama juga menyangkut istilah COMUNITY BUILDING. Community berarti suatu kumpulan, kelompok orang tertentu yang secara bersama-sama membentuk suatu komunitas atas dasar kebersamaan. Suatu community atau komunitas dibentuk berdasarkan kesamaan tertentu dalam diri beberapa orang yang secara sadar memutuskan untuk membangun kebersamaan sebagai pengikat cara hidup demi suatu tujuan tertentu. Kekuatan pemersatu bisa berdasarkan macam-macam hal; intinya ada kesepakatan untuk menjaga dan menghayati bersama apa yang telah disepakati sebagai “aturan main” bersama. Berdasarkan latarbelakang pengikat persatuan kelompok atau komunitas ini, maka bisa muncul komunitas atau kelompok berdasarkan hoby (klub pencinta musik atau sepakbola), berdasarkan tugas/pekerjaan (kelompok/komunitas para buruh, kelompok guru, kelompok bisnis, mahasiswa, pengusaha), berdasarkan panggilan hidup bhakti (religius, biarawan/ti, pertapa), berdasarkan tujuan tertentu (kelompok pencinta alam, pencinta binatang, palang merah, team SAR, tentara/polisi),dll. Kelompok atau komunitas itu dapat bertahan dalam kebersamaan sesuai dengan jenisnya sejauh ada kemungkinan untuk memegang bersama komitmen dan kesadaran memelihara apa yang menjadi kesepakatan umum para anggotanya. Suatu komunitas yang baik tidak berarti menenggelamkan tiap anggotanya dalam kebersamaan.
Dalam arti ini dapatlah ditarik suatu pemahaman umum bahwa: Suatu komunitas/kelompok kebersamaan dapat berjalan baik kalau di dalamnya masing-masing anggota diberi ruang kebebasan untuk mengekspresikan character dirinya secara pribadi dan itu menjadi kekayaan yang mengikat persatuan kelompok.

Intinya, suatu komunitas dikatakan baik kalau setiap anggotanya berperilaku baik dan mendukung kekuatan bersama. Sebaliknya, setiap anggota yang berperilaku dan memiliki sifat-sifat yang baik dalam dirinya dapat membangun suatu kekuatan komunitas yang baik dalam kebersamaan.

Oleh karenanya, character building dan community building akhirnya harus dilihat sebagai dua hal yang berbeda tetapi sebenarnya memiliki kesatuan yang tak terpisahkan. Dalam suatu kelompok masyarakat, kekuatan masyarakat yang baik hanya mungkin terjadi kalau didukung oleh anggota-anggotanya yang memiliki character yang baik sebagai warga masyarakat dan demikian juga sebaliknya.
PROSES PEMBENTUKAN CHARACTER DAN COMMUNITY:

Sebenarnya setiap orang sejak lahir secara alamiah maupun terencana sudah mendapatkan pendidikan atau pembelajaran character dengan sendirinya. Sejak seseorang lahir (secara normal) bahkan jauh sebelumnya (sejak dalam kandungan); seseorang memiliki kemampuan untuk belajar banyak hal dalam dirinya lewat lingkungan terdekatnya dan itu mempengaruhi sampai membentuk suatu character yang kuat dalam diri seseorang sejak awal hidupnya. Dalam interaksi dengan ibunya, bapaknya, anggota keluarganya, seorang anak mulai dengan cepat membangun pengertian-pengertian diri dan itu pelan-pelan membentuk dirinya untuk memiliki suatu gaya hidup, cara hidup tertentu. Sesuai dengan kemampuannya, setiap pribadi mulai mengenal nilai-nilai positif yang dia terima dari lingkungannya dan itu diolah dalam dirinya entah bagaimana caranya, sampai orang memiliki pengertian untuk menghayatinya sebagai milik dirinya.
Maka bisa dikatakan, pada awalnya setiap orang lahir sebagai “tabula rasa”, seperti kertas kosong yang belum mendapat coretan sedikitpun. Walaupun “kosong”, “bersih”, pribadi ini bukannya tanpa apa-apa. Dalam dirinya ada ‘kemampuan’ sebagai potensi yang besar untuk menyerap, mengolah apa saja yang digoreskan dalam hidupnya dan pelan-pelan menjadi milik dirinya. Sebagai contoh: pada saat lahir, seorang anak tidak memiliki pengertian bahwa harus berpakaian lengkap supaya rapi dan sopan, harus berterimakasih kalau diberi sesuatu, harus menoleh dan menjawab kalau dipanggil namanya, harus membersihkan diri dengan mandi setiap kali pada waktunya, harus istirahat demi kesehatannya....dll. Melalui kontak dan interaksi yang terus menerus dengan lingkungannya, anak pelan-pelan dan pasti terus belajar nilai-nilai yang baru itu dalam dirinya, mengolahnya dan akhirnya menjadi suatu cara hidup dan pembawaan yang permanen dalam dirinya. Hal yang sama berlaku juga dalam hal penemuan diri dan penghayatannya akan nilai-nilai luhur seperti kejujuran, tanggungjawab, keberanian, kepekaan, kebiasaan berpikir positif, kesabaran dan kerendahan hati....dll.

Secara lebih tegas, pembentukan character ini masuk dalam kerangka pendidikan character yang secara sistematis diolah dan dikembangkan demi efektifitas pembentukan tiap pribadi sesuai dengan taraf kehidupannya. Dalam pengertian inilah maka dibicarakan Pembentukan character dan pembentukan community/komunitas.

PROSES SISTEMATIS CHARACTER & COMMUNITY BUILDING:

LATAR BELAKANG:

Sebagaimana disebutkan di atas bahwa sebenarnya manusia secara alamiah mengalami proses “pendidikan character” sejak ia memulai kehidupan di dunia ini. Namun dalam kenyataannya “pendidikan character” itu tidak berjalan mulus. Sebabnya adalah situasi masyarakat yang terus berubah dan mengalami degradasi nilai dalam perkembangannya. Ada masa nya di mana nilai-nilai yang diandaikan menjadi dasar pembangunan pribadi yang berkarakter, ‘pribadi yang baik’ mengalami kemerosotan nilai akibat suatu penyimpangan dari perkembangan. Kita lihat dalam skala kecil di negara kita. Bangsa Indonesia yang katanya mengalami banyak kemajuan sejak jaman kemerdekaan hingga kini, tidak dengan sendirinya diiringi kemajuan dalam pendidikan character bangsa. Situasi akhir-akhir ini yang mengalami serba kesulitan di berbagai bidang makin menunjukkan bahwa bangsa Indonesia menjadi salah satu bangsa yang terpuruk. Mulai dari keterpurukan ekonomi, politik,hukum berbangsa, keterpurukan moral dan etika. Tidak salah kalau ada yang berani mengatakan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang kehilangan karakternya! Para pemimpin bangsa yang harusnya diandalkan sebagai trend-setter pembentuk nurani bangsa yang berkarakter kehilangan fungsinya! Justru para pemimpin masyarakat yang harusnya menjadi panutan malah sibuk dengan korupsi, kolusi dan nepotise yang mengkhianati hati rakyat!
Dalam situasi yang serba kacau, hukum yang harusnya dapat diandalkan untuk menertibkan masyarakat juga kehilangan fungsinya karena dengan mudah dipermainkan oleh para oknum yang seharusnya menjadi penjaga hukum yang adil. Jadilah akhirnya masyarakat yang sudah terlanjur terpuruk secara ekonomis akhirnya mencari jalan sendiri-sendiri untuk menyelamatkan dirinya. Orang makin menjadi serigala bagi sesamanya, menghalalkan segala cara demi keselamatan pribadi. Situasi yang demikian memperparah kemerosotan dalam hal pendidikan karakter. Masyarakat yang seharusnya menjadi peran utama sebagai pendidik karakter anak bangsa kehilangan ‘sayapnya’ dan tidak mampu menjalankan fungsi mendidiknya dengan baik. Termasuk di dalam hal itu peran orang tua seringkali juga tidak berjalan secara maksimal dalam mendampingi generasi-generasi baru untuk belajar menghayati nilai-nilai yang berkarakter bagi hidup dan masa depannya. Akibat lebih jauh dari situasi itu menciptakan lingkaran setan yang tak ada titik akhirnya. Generasi yang rusak karakternya hanya melahirkan generasi-generasi baru yang juga rusak karakternya karena kemampuan meniru mereka tanpa melalui ‘saringan’ yang dapat membantu mereka memegang nilai-nilai yang baik dalam masyarakat dan meninggalkan pengaruh yang buruk bagi mereka. Seperti magnet yang kuat, generasi baru menyerap dan menarik apa saja yang di dekatnya dan semua seperti terseret mempel dan menimbun karakter asli mereka hingga kehilangan bentuknya seperti magnet yang ditutupi banyak benda-benda yang ditarik dari sekitarnya.

Karena ketika orang tua tidak atau kurang menjalankan fungsi mendidiknya dengan baik, maka anak berkembang secara liar menyerap nilai-nilai apa saja yang ada di masyarakat dan lingkungan sekitarnya,entah yang baik atau yang buruk. Tanpa seleksi lagi, ditambah semakin terbukanya akses lewat kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi di bidang komunikasi, segala hal mengalir tak terbendung dan menenggelamkan jauh ke dasarnya yang terdalam karakter anak bangsa. Tidak heran seringkali terjadi orang tua terkejut dengan hal-hal baru yang ditampilkan anaknya yang di luar bayangan mereka selaku orang tua. Sering terjadi orang tua kewalahan menghadapi anaknya yang jauh lebih pintar, jauh lebih cepat menyerap hal-hal baru, tapi juga jauh dari nilai-nilai kebaikan yang menjadi harapan orang tuanya. Apa yang diajarkan orang tua tidak meresap di batin anak, sebaliknya apa yang tidak diajarkan, bahkan dilarang malah dimiliki dan dihayati anak dalam perkembangannya! Dalam konteks masyarakat yang demikian, maka tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa masyarakat tidak siap mendidik anak bangsanya dalam hal membangun pribadi yang berkarakter baik dan teruji.
Atas dasar keprihatinan itulah maka disadari perlunya adanya suatu upaya untuk menciptakan pola-pola pendidikan yang mengarah pada suatu pembangunan karakter yang berkualitas secara sistematis dan dapat diperanggungjawabkan.

KONSTRUKTIVISME DALAM PENGOLAHAN CHARACTER:

Dari arti katanya, Konstruksi/konstruktif/konstruktivisme, adalah suatu proses, menata, menyusun, membangun hingga terbentuk suatu bangunan tertentu dengan pola pola yang khas seperti diharapkan. Dalam proses membangun terdapat tahap-tahap perkembangan meliputi:
- Merancang tujuan (visi-Misi)
- Mengumpulkan bahan (Inventaris)
- Membangun pondasi dan struktur bangunan (Kerangka dasar-aturan main)
- Finishing, interior (Peneguhan, perutusan)
- Menempati (Adaptif, Self belonging)

Dalam Pembentukan character, tahap tahap tersebut dikembangkan secara konsisten dengan menggunakan metode aktif-reaktif-komunikatif dengan komposisi 20 % teori dan 80 % praktek pelatihan. Melalui pelatihan ini peserta diajak untuk merancang bangun kepribadiannya untuk menemukan character diri yang kuat dan berpengaruh. Metode Konstruksi dipakai secara sisematis untuk mengolah kepribadian secara maksimal melalui tahap-tahap pembangunan:

Pada awal mulai membangun, orang pertama-tama merancang dulu ‘format bangunan’ diri macam apa yang mau kita capai. Dalam hal ini, merancang berarti menentukan visi misi yang jelas pribadi macam apa yang dicita-citakan. Menentukan tujuan pada awal sebagai proses merancang ini penting agar dalam kelanjutannya peserta mengerti apa yang harus diolah dalam dirinya.
Setelah menemukan visi-misi diri yang jelas, tahap berikutnya peserta diajak untuk mengumpulkan bahan “material” bangunan dirinya. Melalui pelbagai bidang ilmu, peserta diajak menemukan “kekayaan dirinya” dalam sifat-sifat diri yang ditemukan. Dengan menggunakan ilmu metafisika, eneagram, ilmu psikologi, dan macam-macam ilmu lainnya, peserta dibantu untuk mengumpulkan segala macam watak, sifat dan karakter dalam dirinya. Pada tahap ini mungkin peserta mulai menemukan banyak yang menjadi kekayaan jati dirinya. Kadang juga menemukan ada hal-hal yang mengejutkan ternyata dimilikinya. Itu berarti selama ini penemuan diri itu kurang disadari. Peran macam-macam ilmu yang dipakai itu bukan pertama-tama untuk membatasi diri, atau semacam menentukan “takdir” diri yang hanya bisa diterima dan tidak bisa diubah. Maksudnya adalah supaya hal-hal yang dibawah sadar diangkat ke permukaan kesadaran sehingga ada peluang untuk lebih mengembangkannya secara maksimal.

Langkah berikutnya adalah mulai membangun pondasi:
Intinya membantu tiap pribadi untuk mengembangkan diri secara maksimal. Orang pertama-tama dibongkar dari benteng-benteng keterpurukan diri (istilanya Mental block) yang menghambat perkembangan. Itu termasuk soal kecenderungan berpikir negatif, pengenalan akan pengalaman masa lalu yang buruk, latar belakang hidup yang kurang kondusif, pola-pola berpikir yang keliru tentang rasa takut, minder, peniru, pemalu dan sebagainya. Setelah itu orang diajak melihat kekayaan dan kekuatan dirinya, dan mulai berpikir untuk mengubah diri dengan melakukan segala sesuatu secara maksimal. Dengan itu orang diarahkan untuk mengenali keunggulan dirinya dan sadar bahwa dirinya harus menjadi (istilahnya) "anak-anak ajaib" yang mempunyai ciri: Rohani, Gembira dan Kreatif.

Nah, untuk itu ada aturan main yang harus disepakati bersama, biasanya yang sering dipakai sebagai aturan main itu antara lain:
Kedisiplinan, Kerjasama, Ketelitian, Kreatif, Kejujuran, Keberanian, Bertanggungjawab ( biasanya disebut dengan 6K 1B atau 4K 1B atau 5K 1B tergantung kesepakatan). Selama pelatihan, aturan main itu dipantau dan terus dievaluasi secara bersama supaya dapat dijamin setiap orang melakukannya secara maksimal. Buahnya orang sering terkejut dengan kemampuannya sendiri. Sering dalam waktu yang singkat dan cepat, mereka mampu melakukan hal-hal yang selama hidupnya tidak mampu mereka lakukan, dapat memikirkan hal-hal yang selama hidupnya mereka kira tidak akan pernah terpikirkan.
Selain aturan main itu aku juga mengembangkan 5 hukum utama pembentukan karakter yaitu:

1. KETAKUTAN MEMBUNUH KECERDASAN!
2. AKU ADALAH TUAN ATAS DIRIKU SENDIRI
3. BERPIKIR DULU BARU BICARA
4. MENCIPTAKAN EMAS DI SETIAP PELUANG
5. DARI YANG TERBATAS DAPAT MENGHASILKAN YANG TAK TERBATAS.

Wah kalo mau diterangkan bisa panjang lebar neh...! Tapi singkatnya begini:

1 KETAKUTAN MEMBUNUH KECERDASAN: Orang yang dikuasai ketakutan (dalam hal apa saja) pasti tidak akan berkembang maksimal, habisnya mau mencoba apa saja takut, ga berani ambil resiko, khawatir ini dan itu.....Juga terhadap relasi dengan orang lain, termasuk ketakutan untuk mencintai, takut untuk terluka, takut untuk gagal....dsb. Akibatnya orang terkurung dalam kesempitan diri, kayak siput yang lambat dan cepat sembunyi dalam cangkangnya setiap kali ada tantangan dalam hidup. Maka orang harus mendobrak dengan mantra itu: KETAKUTAN BISA MEMBUNUH KESEMPATAN DAN PELUANG UNTUK MENGEMBANGKAN DIRI MENJADI ORANG YANG CERDAS!

2. AKU ADALAH TUAN ATAS DIRIKU SENDIRI: Kebanyakan orang hidup ga alami, dia hidup atas dasar penilaian orang lain, bahkan banyak yang hidup ditentukan oleh orang lain. Padahal sebenarnya segala sesuatunya dia sendiri yang harus menanggung. Maka penting orang menyadari bahwa dirinya adalah tuan atas dirinya sendiri, bukan diperbudak orang lain. Coba misalnya, kalo kita dipuji orang lain apakah badan kita bertambah sesuatu? tambah sempit bajunya?? Tentu saja tidak.... Juga kalo kita dikritik dan dicela orang, apa ada yang berkurang dalam diri kita??? tambah pendek, tambah hitam atau apa??? kan enggak juga!! Lalu kenapa sibuk dengan penilaian orang lain?? Tapi di antara kita banyak yang begitu bukan?? Cirinya orang yang dikuasai oleh orang lain: Sibuk dan gelisah mengikuti trend jaman (dalam hal makanan, mode pakaian, mode rambut, pergaulan, dll) Orang diperbudak oleh trend sesaat. Coba ingat dalam hidupmu, berapa banyak waktu di mana kita sibuk mengikuti perkembangan trend, berapa banyak biaya dihabiskan untuk ikut trend supaya ga dibilang ketinggalan jaman? coba ingat gimana rasanya kalo dikatakan orang ketinggalan jaman, ketinggalan issue? Gelisah?, malu? merasa ga nyaman?? Dengan menjadi tuan atas diri sendiri kita dibentuk untuk menjadi "Trend-setter" Menjadi orang yang berpendirian kuat, kreatif dan berpengaruh sehingga kita justru menjadi pencetus trend (kayak bintang film,sinetron, bintang iklan, tokoh-tokoh dunia yang unik, tampil beda tapi ditiru orang banyak) dan bukan yang terseret oleh trend orang lain!

3. BERPIKIR DULU BARU BICARA:
Ini membentuk kesadaran orang untuk menjadi reflektif dan bukan reaktif! Kebanyakan kita sering menjadi orang yang reaktif, ada soal/masalah dengan seseorang lalu kita bereaksi negatif: sedih, marah, kehilangan, sakit hati, terpuruk....(untung ga banget-banget sampe ngobat, nge-drug,bunuh diri ya he he....). Orang yang reflektif tidak hanyut dalam situasi dan persoalan yang menderanya. Ketika berhadapan dengan sesuatu dia berpikir dulu, tenang dan merefleksikan tiap peristiwa, orang-orang dsb. Lalu baru bertindak atau berbicara. Kalo ini sudah terlatih orang akan semakin terampil dan cepat dalam berpikir dan bertindaknya, hampir tanpa salah! Bahkan dengan berpikir dulu baru bicara orang sering mampu keluar dari persoalan yang pelik dan mampu menemukan jalan alternatif! Bahkan ketika dihadapkan pada persoalan yang dilematis, yang sama-sama buruk hasilnya, orang bisa menembus kemungkinan jalan ketiga yang tidak terpikirkan oleh orang lain. Hukum ini memaksimalkan pencarian kebenaran dan menghindarkan orang dari kesesatan dan kesalahan dalam berpikir dan memutuskan. (contohnya Yesus: jawabanNya terhadap setiap kasus dan pertanyaan yang dilontarkan ahli taurat dan orang farisi sering dijawab dengan mengejutkan oleh Yesus--> tentang membayar pajak, tentang wanita yang berzinah, tentang puasa, tentang sabat...dll selalu Dia punya jawaban ketiga yang tak dipikirkan orang lain.

4. MENCIPTAKAN EMAS DI SETIAP PELUANG
Ini hukum kontra "merebut peluang emas". Yang sering kita dengar begitu: "Ayo rebut peluang emas kalo mau maju" jangan sampai ketinggalan peluang emas!!!. Kalo aku sih enggak gitu! Jaman sekarang kalo kita menunggu peluang emas sering tidak dapat, atau kalau pun ada, sering orang lain lebih cepat dari kita, ya khan? Maka kita harus selangkah lebih unggul: Jangan menunggu sampe ada peluang emas, tapi ciptakanlah emas di setiap peluang!!! Kita harus kreatif dan tanggap situasi, jangan menunggu. Bagi orang lain mungkin itu peluang kecil, tidak menjanjikan, hasilnya kecil..... Bagi kita tidak begitu. Oke kecil, sedikit, bukan peluang emas, tapi ayo kreatif! apa yang bisa kita buat dari yang kecil dan kurang menjanjikan itu? Kita kembangkan dengan kemampuan kita dan dari yang kecil itu bisa menjadi besar! Contohnya sampah! Siapa sih yang mau melirik sampah sebagai lahan bisnis yang menggiurkan? Tapi selalu saja ada orang yang bisa menciptakan emas di setiap peluang! Akhirnya sampe punya puluhan mobil truk pengangkut sampah, punya ratusan karyawan dan menampung ribuan pemulung untuk mendaur ulang sampah busuk dan kotor itu!! Orang antre menunggu lowongan kerja, harapkan kerja bergengsi, berdasi, gaji lumayan....siapa dapat??? Mengapa tidak berpikir menciptakan lapangan kerja baru dan menghasilkan sesuatu yang tidak tergantung orang lain? Dunia luas kok, bidang hidup yang bisa ditangani banyak, kenapa hanya ikut-ikutan??

5. DARI YANG TERBATAS DAPAT MENGHASILKAN YANG TAK TERBATAS.
Kuncinya untuk mampu menciptakan emas ya ini: Harus berani berpikir bahwa dari yang amat terbatas bisa menghasilkan yang tak terbatas. Ga Percaya?? Coba aja deh... Jangan menunggu sempurna, punya modal besar, punya segalanya baru berbuat baik! Kapan kita akan sempat berbuat baik?? Bukankah semua hal yang besar didunia ini dimulai dari yang kecil?? Bukankah sukses besar itu terdiri dari kumpulan sukses-sukses kecil yang memuncak pada akhirnya? Tapi inginnya orang langsung sukses besar, ga pikir bahwa itu harus mulai dari bawah, dari yang kecil dan sulit, hari demi hari, baru meraih sukses. Anak ajaib yang bercirikan Rohani, gembira dan kreatif dilatih untuk mampu melihat apa yang tak dilihat orang lain, mendengar apa yang tak didengar orang lain dan melakukan apa yang tidak dilakukan orang lain!! Mampu menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada!!! Hebat ya...anda juga bisa menjadi seperti itukan??........to be continued....

Pelatihan: sugesti




Bagian dari latihan sederhana penggunaan tehnik Sugesti: Mengangkat teman di atas selembar koran.......mengubah kekuatan pikiran menjadi sumber kekuatan energi fisik. (LDK SMA Frans - Lampung 06) Hend-doc