Jumat, Januari 16, 2009




KISAH INSPIRATIF.........., INSPIRASI DARI KISAH........

(diedit dari berbagai sumber, trims untuk semua yang pernah menulis sebelum ini-chao...)

01


Ketika Pesawat kecil yang membawaku dari Palembang ke Jakarta tinggal landas, sempat terjadi gangguan badai kecil. Kebanyakan penumpang sempat panik ketika terjadi guncangan yang cukup keras. Saya sempat heran dengan seorang ibu yang duduk di seberangku tetap tenang, wajahnya tidak menunjukkan tanda-tanda ketakutan seperti aku dan penumpang lainnya. Untuk mengalihkan rasa takut saya bertanya:

"Ibu nggak takut dengan goncangan pesawat ini??" Dengan tenang si ibu menjawab:

"Dik, saya percaya Tuhan itu baik, mencintai saya, kenapa takut? Saya punya dua anak yang saya cintai, yang satu meninggal beberapa hari yang lalu. Ini saya mau ke Jakarta tilik anak saya yang kedua..." katanya tenang.

"Lho...apa hubungannya dengan bahaya badai ini? Gimana perasaan ibu kalau terjadi apa-apa dengan kita?" Tanyaku penasaran..

"Kalau percaya, ya.... percaya" Kata ibu itu masih tenang dengan keadaannya.

"Kalau pesawat ini jatuh, berarti saya akan bertemu anak pertama saya di surga...Kalau pesawat ini selamat sampai Jakarta, berarti saya akan ketemu anak saya yang saya cintai di Cengkareng....sama aja toh? Keduanya saya cintai...mengapa takut??"

(Oooo....betapa besar kekuatan CINTA; tak ada maut yang mampu mengalahkan kekuatan cinta, tak ada petaka yang mampu merobohkan menara CINTA....dan di dalam kekuatan cinta tersembunyi sepercik HARAPAN yang cukup untuk menuntun orang yang berjalan dalam IMAN....)-Awal tahun 2009-Hend.

02

Berapa umur manusia yang sebenarnya??

Umur manusia sebenarnya hanya 20 Tahun!! Ingat waktu Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, kira-kira mereka juga seumuran 20 tahun! Karena itu pasti kita tidak pernah membayangkan tokoh Adam dan Hawa seumur Balita, atau seumur kakek -nenek, iya kan???

Itu makanya saat-saat terindah dalam hidup manusia umumnya sampai umur 20 tahun. Anak seusia itu masih dalam dunia bermain, happy, enjoy dengan hidupnya; bahkan jika harus kerja keras karena tekanan ekonomi, mereka bisa menganggapnya seperti permainan dalam kehidupan. Selebihnya hidup manusia di atas 20 tahun penuh kerja keras dan susah payah untuk menyelesaikan usia hidupnya......

Dulunya Tuhan memberi umur-umur yang berbeda pada tiap ciptaan.
Manusia: 20 tahun, dan hanya 20 tahun!.

Kuda sebenarnya diberi umur lebih panjang, tapi kuda tidak mau hidup terlalu lama mengabdi pada manusia, jadi minta umurnya dikurangi 20 tahun.
Sapi, mendengar si kuda dikabulkan permohonannya lalu ikut protes:

"Tuhan, hidupku lebih berat dari kuda, sepanjang hayat mengabdi manusia, susuku diambil tiap hari, mengangkut beban. Kalo kuda dikabulkan, saya juga minta supaya umurku kurangi 20 tahun!" begitu si sapi protes. Mendengar itu Tuhan yang Maha bijaksana tersenyum dan mengabulkan permohonan si sapi.

"Aku lebih sengsara lagi Tuhan, sepanjang hidup menjaga manusia, menggonggong terus, kan capek; kalo boleh tolong umurku juga dikurangi, ga usah banyak-banyak, 10 tahun aja deh"kata si Anjing.

"Baik...baik...permintaanmu kukabulkan..." kata Tuhan yang Maha bijaksana.


Mendengar temannya si anjing dikabulkan permintaannya, si Kera angkat bicara:

"Tuhan, bukankah aku lebih sengsara lagi hidup sepanjang tahun di atas pohon, salah-salah terpeleset jatuh, kan sakit sekali...bisakah umurku dikurangi 10 tahun aja, biar ga terlalu lama tinggal di bumi??" kata si kera.

"Baik...baik...itu juga kukabulkan...", kata Tuhan sang Maha bijaksana.

"Mungkin dari antara semuanya, akulah yang paling menderita, sepanjang hidup membawa rumahku yang keras dan berat ini..." kata si kura-kura.

"Sepantasnya umurku juga dikurangi 10 tahun ya Tuhan..." lagi kata si kura-kura.

"Baik...baik....terjadilah seperti yang kau minta, kura-kura" kata Tuhan sang Maha bijaksana.

Dasar manusia serakah, merasa paling dekat dengan Tuhan sebagai ciptaan, manusia memanfaatkan kedekatan itu untuk minta tambah umur.

"Tuhan, aku ingin hidup seribu tahun lagi...daripada umur-umur mereka dibuang, mengapa tidak Kau berikan saja pada kami manusia??" Kata manusia kepada Tuhan.

Tuhan bingung, ini kan jatahnya hewan, dan jumlah umur sudah dibagi rata. Tetapi karena manusia memaksa akhirnya Tuhan memberikan jatah umur kuda, sapi, anjing, kera dan kura-kura kepada manusia.

.........Itulah makanya setelah umur 20 tahun, orang menjadi seperti kuda: kerja keras, semangat besar dan gagah, tidak kenal menyerah seperti kuda.....sampai umur 40 tahun.

Setelah 40 tahun orang menjadi seperti sapi, kuat tapi makin lamban, kerja jadi beban yang harus dipikul, kerja untuk orang lain....sampai umur 60 tahun! Salahnya minta umurnya sapi sih!

Setelah 60 tahun saat pensiun, orang menjadi seperti anjing (karena mengambil umurnya si anjing sih!), lebih banyak di rumah, gonggong-sana gonggong sini, marah-marah dengan cucu, tapi sayang, ngomel sama menantu, setia dengan kerja-kerja kecil di rumah seperti anjing sampai usia 70 tahun.

Setelah 70 tahun (ambil usianya kera) manusia mirip kera yang sibuk dengan dirinya sendiri, membuat sarang, mengenang masa manusianya dan kadang ulahnya membuat lucu dan jadi hiburan bagai yang muda....sampai usia 80 tahun....

Selebihnya, sesuai umurnya si kura-kura, lihatlah si tua itu berjalan terbongkok-bongkok seperti memikul beban yang berat....sangat lambat seperti kura-kura!!......oooooo manusia.......

(Betapa malangnya kalau manusia hidup jauh di bawah kesadarannya.....kerja, uang, kaya, kerja, uang, kaya....terus...dan terus sibuk seumur hidupnya persis seperti binatang, kehilangan harkat martabatnya sebagai mahluk yang mulia... Seandainya manusia tahu menikmati hidupnya dalam kebaikan dan kesederhanaan.... Seandainya manusia tahu apa artinya CUKUP!) - Hend.



03

Belajar dari semut

Karakter paling khas dari semut, yang tidak pernah dijumpai pada jenis binatang lainnya adalah: kebiasaan tegur sapa/komunikasi yang dilakukan setiap kali semut bertemu/berpapasan dengan teman semut lainnya. Tahu apa yang diperbincangkan oleh semut dengan temannya setiap kali mereka bertemu???

Sejarahnya mulai sejak jaman nabi Nuh! Ketika Tuhan menghukum manusia dengan banjir badang selama empat puluh hari empat puluh malam. Tuhan memeritahkan Nuh untuk membuat bahtera dan mengumpulkan berbagai jenis hewan berpasangan di dalamnya.

Nuh bukanlah nabi yang bodoh, dia berpikir: empat puluh hari empat puluh malam bukanlah waktu yang singkat! Kalo hewan-hewan pada kawin, bahtera itu akan cepat penuh dan makanan tidak mencukupi untuk mereka. Maka Nuh membuat satu kotak besar, dan dia mengumumkan pada hewan-hewan:

"Para hewan sekalian, demi kelangsungan hidup kita semua selama masa air bah ini, diwajibkan para hewan semua, tanpa terkecuali, untuk mengumpulkan "barang"nya masing-masing dalam kotak ini - supaya tidak ada kawin-mengawin selama 40 hari, demi menghindari perkembang-biakan!!!"

Demikianlah hewan-hewan patuh, melepaskan "barang pusakanya" dan tidak ada perkawinan antar hewan selama 40 hari.... Setelah masa banjir itu, menurut cerita Nuh melepaskan burung gagak...dan tak kembali... Kali berikutnya Nuh melepaskan burung merpati, yang pulang ke bahtera membawa tangkai zaitun, tanda kehidupan baru. Nuh tahu bahwa sudah muncul daratan dan waktunya melepas hewan-hewan untuk hidup di alam yang baru...

Saking "ngampet" nya, hewan-hewan berebut mengambil "barang"nya masing-masing sebelum keluar bahtera. Terjadilah kekacauan karena semua berebut ingin duluan; "barang" nya gajah dipakai kerbau, punya sapi dipakai gajah, punya kambing dipakai anjing, punya tikus direbut kelinci.....banyak yang salah ambil sehingga aneh-aneh bentuknya....

Kasihan dengan si semut, karena "barang"nya sangat kecil, waktu berebut entah hilang atau nempel di mana, semut tidak bisa menemukan barangnya sendiri...........

Sejak itulah, sampai sekarang, kalo semut berjumpa dengan temannya, yang pasti mereka selalu bertanya satu sama lain: "Udah ketemu belum barangnya???" dan semut yang lain selalu menjawab: "Belum.....?"

.....Manusia mahluk "pencari"....seumur hidupnya merupakan hari-hari "pencaharian", bukan mencari "barangnya" yang hilang-seperti semut- tetapi mencari makna hidupnya, mencari keselamatannya yang hilang sejak Adam dan Hawa jatuh dalam dosa.... Semoga manusia mau belajar dari semut, yang dalam pencahariannya tidak pernah lupa untuk bertegur sapa, berkomunikasi dengan baik dan tidak sibuk sendirian..... Semoga dalam pejiarahan menuju tanah keselamatan mereka tidak pernah lupa sesamanya, selalu saling meneguhkan dan memberi kakuatan dalam setiap perjumpaan dengan sesama..... HND

04

Ketika Pesawat kecil yang membawaku dari Palembang ke Jakarta tinggal landas, sempat terjadi gangguan badai kecil dengan turbelensi??. Kebanyakan penumpang sempat panik ketika terjadi guncangan yang cukup keras. Saya sempat heran dengan seorang ibu yang duduk di seberangku tetap tenang, wajahnya tidak menunjukkan tanda-tanda ketakutan seperti aku dan penumpang lainnya. Untuk mengalihkan rasa takut saya bertanya:

"Ibu nggak takut dengan goncangan pesawat ini??" Dengan tenang si ibu menjawab:

"Dik, saya percaya Tuhan itu baik, mencintai saya, kenapa takut? Saya punya dua anak yang saya cintai, yang satu meninggal beberapa hari yang lalu. Ini saya mau ke Jakarta tilik anak saya yang kedua..." katanya tenang.

"Lho...apa hubungannya dengan bahaya badai ini? Gimana perasaan ibu kalau terjadi apa-apa dengan kita?" Tanyaku penasaran..

"Kalau percaya, ya.... percaya" Kata ibu itu masih tenang dengan keadaannya.

"Kalau pesawat ini jatuh, berarti saya akan bertemu anak pertama saya di surga...Kalau pesawat ini selamat sampai Jakarta, berarti saya akan ketemu anak saya yang saya cintai di Cengkareng....sama aja toh? Keduanya saya cintai...mengapa takut??".......????!!?

Betapa besar kekuatan cinta. Ketika hidup telah dikuasai cinta sepenuhnya, tiada ketakutan yang mampu mengalahkannya. Bahkan maut pun kehilangan sengatnya atas cinta. Atas nama cinta pula banyak orang mampu melakukan perbuatan-perbuatan besar.

Dan lihatlah betapa dashyatnya kekuatan hidup tanpa cinta yang bisa menghancurkan. Orang yang hidup tanpa mengenal cinta seperti monster yang tidak mengenal rasa, menjadi pengancur ulung atas ras manusia....

Hidup kita jatuh atas dua pilihan, mau hidup dengan mencintai sesama, atau hidup tanpa cinta yang berarti tinggal dalam kemurkaan, dendam dan kekosongan makna.... Setiap pilihan punya jalannya sendiri.... Dan bukankah manusia dipanggil untuk mencintai? Salah satu tugas manusia di dunia adalah untuk memaknai hidupnya, dan makna hidup itu hanya bisa ditemukan dalam kekuatan cinta.... Tiada cinta yang lebih agung dari cinta seorang sahabat yang menyerahkan nyawa bagi sahabatnya.....

05

(Trims for someone yang telah berbaik hati mengirim kisah ini, sangat inspiratif dan menggerakkan batin untuk melihat sesuatu yang sederhana tapi berarti, semoga kita mampu melakukannya pada banyak orang dengan pelbagai cara....Hend.09)

Terkadang Kebahagiaan Itu Sangat Sederhana

(Erabaru.or.id) - Sudah sangat lama saya tidak pulang ke kampung halaman, tapi hingga saat ini saya masih belum bisa menyempatkan diri untuk pulang, hal ini membuat saya merasa sangat rindu akan rumah. Teringat kali terakhir pulang kampung, terlebih dahulu saya menelepon, seluruh sanak keluarga menyambutnya gembira. Ketika saya berada di dalam mobil, seperti halnya dalam ingatan saya waktu itu, perasaan di dalam hati ini ada sedikit ketidak sabaran, dan di dalam ketidak sabaran itu ada rasa bahagia. Setelah sekian lama berpisah, setiap orang pasti mendambakan untuk pulang ke rumah dan berkumpul dengan keluarga.Sore itu, ketika kereta api perlahan – lahan memasuki stasiun, dari jendela kereta saya sudah melihat ayah dan adik laki–laki dan perempuan saya dari kejauhan, mereka berdiri di pintu keluar stasiun dan memandang ke arah kereta yang sedang memasuki stasiun. Setelah ayah dapat menemukan saya, dengan riang beliau membantu membawakan tas saya. Sebenarnya saya sudah sedemikian dewasa, bukan lagi seorang anak kecil, lagi pula tas itu juga tidak berat. Tapi melihat ayah sedemikian gembiranya, maka saya pun masih berkelakuan seperti saat saya masih kecil, menyerahkan tas itu dengan patuh kepadanya. Tapi adik laki – laki saya segera merampas tas itu. Seketika itu juga ayah tertawa terbahak – bahak.Adik lelaki saya sudah lebih tinggi dibanding ketika saya pergi meninggalkan mereka tahun lalu, adik perempuan saya juga sudah semakin dewasa dan cantik. Dalam perjalanan ke rumah, kami berbincang dengan riang gembira.Setelah melewati suatu belokan yang berjarak hanya 100 meter dari rumah kami, saya sudah melihat ibu sedang berdiri di depan pintu, sedang memandang ke arah kami.Begitu tiba di rumah, kakak tertua dan istri, serta kakak kedua dan istrinya juga, keluar menyambut kedatangan kami, bersama dengan dua orang kemenakan saya sambil bersenda gurau. Ibu turun tangan sendiri memasak air, menyeduh sepoci teh. Lalu duduk di samping saya sambil memandangiku dengan cermat, membuat saya merasa risih. Ipar tertua dan kedua saya sedang memasak di dapur, saya tidak tahu apa saja yang mereka perbincangkan, hanya suara ha… ha… ha… yang terdengar tiada henti. Kakak pertama dan kedua sedang duduk bersama bermain catur militer (Jun Qi). Sejak kecil mereka berdua sudah tergila – gila bermain Jun Qi, teknik permainan mereka sangat bagus, kekuatan mereka berdua juga hampir seimbang.Tapi jika berbicara mengenai catur Tiongkok (Xiang Qi), mereka berdua sangat lemah. Ayah sering menertawai mereka berdua sebagai si Buta Catur.Ayah lalu mengeluarkan seperangkat Xiang Qi dengan wajah berseri, mengajak saya bermain catur dengannya. Bicara soal Xiang Qi, saya bisa bermain Xiang Qi berkat diajari oleh ibu. Soal teknik bermain Xiang Qi ibu memang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, ibu hanya dapat menjalankannya saja.Lain halnya dengan ayah, beliau adalah jago Xiang Qi di dalam keluarga kami.Sewaktu kecil, sayalah yang paling tak berguna. Sering kali menangis jika kalah bermain catur. Sewaktu ayah mulai mengajak saya bermain catur, beliau mengalah dengan tidak memainkan benteng, kuda dan gajahnya. Walaupun demikian, ditambah dengan bantuan orang lain pun, saya selalu saja kalah, tidak pernah menang. Seiring dengan pertumbuhan saya, teknik bermain catur saya pun semakin tangguh. Sewaktu bermain dengan ayah, beliau mulai mengurangi bobot mengalahnya, hanya mengalah benteng dan kuda, atau benteng dan gajah. Lama kelamaan hanya mengalah satu benteng saja, atau hanya mengalah kuda atau gajah.Hingga berumur 16 tahun, saya sudah bermain setara tanpa ayah harus mengalah. Walaupun saya lebih sering kalah, tetapi yang penting ayah sudah tidak perlu mengalah lagi. Saat berusia 18 tahun, teknik permainan catur saya sudah tak kalah dari ayah. Bahkan acap kali saat bermain catur, pasukan ayah saya babat hingga porak poranda.

Teringat suatu saat ketika kami sedang bermain catur, karena perhitungannya kurang cermat, beliau baru menyadari kesalahannya kemudian, namun semua sudah terlambat. Saat itu beliau hendak membatalkan permainan caturnya. Sebelumnya ayah tidak pernah membatalkan langkah dalam permainan caturnya, tapi ketika itu mungkin beliau merasa tidak dapat menerima kekalahannya itu sehingga bersikeras hendak membatalkan langkahnya itu. Waktu itu timbul kenakalan saya untuk tidak membiarkan ayah membatalkan langkahnya. Saya masih teringat jelas, ayah sangat marah sambil berdiri dan berkata, “Percuma saja ayah membesarkanmu hingga dewasa, masa membatalkan langkah catur saja tidak boleh.”Sejak saat itu ayah jarang sekali bermain catur dengan saya.Hari ini, ayah terlihat dengan antusiasnya, mengubah sebuah meja kecil menjadi ajang pertempuran catur. Segenap anggota keluarga mengelilingi kami berdua, menyaksikan siapa yang lebih unggul. Sama seperti dulu, saya memilih bidak merah dan mendapat giliran pertama. Setelah lebih 10 menit bermain, saya melihat ayah sedang mengamati catur, sambil tangan ayah merogoh ke dalam sakunya mencari rokok, seperti kebiasaannya dulu. Dulu, jika di dalam permainan catur ayah menjumpai musuh yang berat, konsentrasinya akan termanifestasi dengan merokok. Sebatang rokok akan menggantung di pinggir bibirnya, dihisapnya dalam dalam, lalu dibiarkannya asap rokok mengepul ke atas. Ayah sendiri yang berada di belakang kepulan asap itu seolah menembus kabut rokok memikirkan situasi di atas papan catur, memikirkan langkah berikutnya dengan serius. Saya menggunakan isyarat mata dengan adik lelaki saya, seketika dia segera menuangkan secangkir teh hangat, lalu meletakkannya di hadapan ayah. Mendadak ayah baru teringat kalau sudah lama berhenti merokok, dengan sedikit linglung ayah tertawa pada kami, namun matanya terus mengamati papan catur, melanjutkan langkah berikutnya.Melalui kaca mata rabun saya, terlihat rambut putih di kepala ayah lebih banyak dari pada tahun lalu, kulitnya juga semakin keriput. Melihat rona wajahnya yang demikian serius memandangi papan catur, mendadak saya merasakan dorongan hati hendak menangis. Saya putuskan untuk membiarkan ayah menang, membiarkan ayah menang demi kepuasan hatinya. Sejak usia 18 tahun, ayah jarang sekali mendapat kesempatan menang dari saya. Saya ingin membiarkan ayah menang, tapi tidak boleh sampai membuat ayah menyadarinya. Karena bagaimana pun juga ayah termasuk pemain ulung. Maka dari itu, kali ini merupakan permainan tersulit bagi saya, hingga pada akhirnya saya mendorong papan catur dan menyatakan diri kalah. Bukan main girangnya ayah, matanya nampak tinggal segaris karena tertawa senang, persis seperti anak kecil memenangkan permainan catur dengan teman sebayanya, gembira bukan kepalang. Ada suatu kehangatan yang telah lama tidak pernah saya peroleh, membuat saya ada sedikit lepas kontrol. Lalu saya duduk di hadapannya, sambil minum teh, menemaninya tertawa.Saya masih ingat, malam itu setelah selesai makan malam, kami sekeluarga berkumpul mengobrol bersama. Ayah bersandar di pinggir jendela, memandang pohon bambu di luar sana. Hari itu, ayah benar – benar sangat bahagia.Ibu berkata pada ayah, “Suamiku, selama ini saya mengira bahwa engkau telah tua. Tapi hari ini begitu melihat dirimu bermain catur dengan anakmu, sepertinya engkau masih belum tua.” Ayah tertawa terbahak-bahak dan berkata, “Dia mengalah kepadaku, kamu kira aku tidak tahu?! Anak sudah dewasa, sudah berakal budi, sudah memahami bagaimana membuat sang ayah yang sudah tua ini gembira.”Ternyata ayah tahu bahwa saya sengaja mengalah padanya. Tapi saya segera tertawa terkekeh dan berkata, “Aduh, ayah… Saya kalah ya sudah kalah, saya kalah dengan tulus hati. Kehebatan ayah masih tak kalah dibanding waktu ayah muda dulu.”Dengan wajah keriputnya ayah memandangi saya dengan gembira, kehangatan semacam itu, sampai kapan pun tidak akan pernah saya lupakan. Kebahagiaan mungkin memang sangat sederhana, sama sederhananya dengan niat saya untuk mengalah dalam permainan catur. Sekarang ini saya sering berpikir, entah kapan lagi saya bisa pulang ke kampung halaman dan bermain catur dengan ayah lagi. Masih ingin rasanya saya mengalah, agar ayah dapat menang dengan gembira. (Yuan Daima/The Epoch Times/lin)

Sering hal yang begitu sederhana luput dari pikiran kita....Sering kita lupa bahwa kebahagiaan yang kita rasakan adalah kumpulan dari percikan-percikan peristiwa hidup yang kecil yang kita rajut dengan saudara, keluarga, orang tua, teman dan sahabat....

Kita berpikir keras untuk membahagiakan anak, keluarga, teman dan sesama dengan mati-matian melakukan sesuatu yang kita anggap penting dan besar...sering dengan seluruh hidup kita yang menjadi taruhannya....dan berapa banyak waktu kita lewatkan begitu saja dan cuplikan kebahagiaan itu kita lalui tanpa makna. Dan orang hanya menunggu dan menunggu...kapan kebahagiaan yang kau janjikan itu akan kau berikan, sebelum hidupmu berakhir???

06

It's a good story.......

Roy Angel adalah pendeta miskin yang memiliki kakak seorang millionaire.Pada tahun 1940, ketika bisnis minyak bumi sedang mengalami puncak, kakaknya menjual padang rumput di Texas pada waktu yang tepat dengan harga yang sangat tinggi. Seketika itu kakak Roy Angel menjadi kaya raya. Setelah itu kakak Roy Angel menanam saham pada perusahaan besar & memperoleh untung yang besar.Kini dia tinggal di apartment mewah di New York dan memiliki kantor diWallstreet. Seminggu sebelum Natal , kakaknya menghadiahi Roy Angel sebuah mobil baru yang mewah & mengkilap.

Suatu pagi seorang anak gelandangan menatap mobilnya dengan penuh kekaguman.

"Hai... nak" sapa Roy.Anak itu melihat pada Roy dan bertanya:

"Apakah ini mobil Tuan?" "Ya," jawab Roy singkat.

"Berapa harganya Tuan?"

"Sesungguhnya saya tidak tahu harganya berapa".

"Mengapa Tuan tidak tahu harganya, bukankan Tuan yang punya mobil ini?"Gelandangan kecil itu bertanya penuh heran.

"Saya tidak tahu karena mobil ini hadiah dari kakak saya"

Mendengar jawaban itu mata anak itu melebar dan bergumam,"Seandainya. ...seandainya. ..."Roy mengira ia tahu persis apa yang didambakan anak kecil itu."Anak ini pasti berharap memiliki kakak yang sama seperti kakakku."

Ternyata Roy salah menduga, saat anak itu melanjutkan kata-katanya:"Seandainya. .. seandainya saya dapat menjadi kakak seperti itu...."

Dengan masih terheran-heran Roy mengajak anak itu berkeliling dengan mobilnya. Anak itu tak henti-henti memuji keindahan mobilnya. Sampai satu kali anak itu berkata,"Tuan, bersediakah mampir ke rumah saya? Letaknya hanya beberapa blok dari sini". Sekali lagi Roy mengira dia tahu apa yang ingin dilakukan anak ini."Pasti anak ini ingin memperlihatkan pada teman-temannya bahwa ia telah naik mobil mewah." pikir Roy."OK, mengapa tidak", kata Roy sambil menuju arah rumah anak itu.

Tiba di sudut jalan si anak gelandangan memohon pada Roy untuk berhenti sejenak, "Tuan, bersediakah Tuan menunggu sebentar? Saya akan segera kembali".Anak itu berlari menuju rumah gubuknya yang sudah reot. Setelah menunggu hampir sepuluh menit, Roy mulai penasaran apa yang dilakukan anak itu dan keluar dari mobilnya, menatap rumah reot itu. Pada waktu itu ia mendengar suara kaki yang perlahan-lahan. Beberapa saat kemudian anak gelandangan itu keluar sambil menggendong adiknya yang lumpuh. Setelah tiba di dekat mobil anak gelandangan itu berkata pada adiknya:

"Lihat... seperti yang kakak bilang padamu. Ini mobil terbaru. Kakak Tuan ini menghadiahkannya pada Tuan ini. Suatu saat nanti kakak akan membelikan mobil seperti ini untukmu".

Bukan karena keinginan seorang anak gelandangan yang hendak menghadiahkan mobil mewah untuk adiknya yang membuat Roy tak dapat menahan haru pada saat itu juga, tetapi karena ketulusan kasih seorang kakak yang selalu ingin memberi yang terbaik bagi adiknya.Seandainya saya dapat menjadi kakak seperti itu........

Kisah ini diambil dari sebuah kisah nyata yang ditulis dalam sebuah buku"Stories for the family's heart" by Alice Gray. Bagi saya kisah ini sangat menyentuh dan membuat kita mengerti untuk selalu mengasihi orang lain. Berikanlah yang terbaik bagi orang yang anda kasihi selagi anda bisa, atau kita mungkin akan menyesal seumur hidup kita karena kita gagal melakukan apa yang sebenarnya saat ini bisa kita lakukan bagi kebahagiaan mereka yang kita cintai........

07

Menyalakan Lilin Hati

( dari: Erabaru.or.id) -

Roy adalah seorang pedagang kulit bulu, umurnya telah melewati setengah baya, masalah bisnisnya tidak sesuai dengan harapan, berkali-kali ia mengalami kegagalan. Semangatnya amat sangat rendah, acap kali marah-marah tanpa sebab yang jelas, selalu mengeluh bahwa orang lain telah menipu dirinya. Akhirnya pada suatu hari, ia berkata pada istrinya,

"Kota ini membuat saya sangat kecewa, saya ingin meninggalkan kota ini, pindah ke tempat lain."Roy dan istrinya datang ke suatu kota, pindah ke tempat tinggal baru mereka. Di suatu malam akhir pekan, ketika Roy dan istrinya sedang menata kamar, mendadak listrik padam, seketika itu seluruh ruangan menjadi gelap gulita. Roy sangat menyesal mengapa ketika datang ia tidak membawa lilin, karena itu ia hanya bisa duduk tak berdaya di lantai dan mengeluh. Saat itu, di luar pintu terdengar suara ketukan pintu yang agak ragu dan perlahan, memecah kesunyian malam.

"Siapa itu?" Di kota tersebut Roy tidak punya kenalan, ia juga tidak ingin diganggu orang di akhir pekan. Ia berdiri dengan terpaksa. Susah payah Roy meraba ke arah pintu, dan membuka pintu itu dengan tidak sabar. Di depan pintu berdiri seorang gadis kecil, yang dengan nada ketakutan berkata pada Roy,

"Tuan, saya adalah tetangga Anda. Tolong tanya apakah Anda memiliki lilin?"Roy menjawab dengan nada dongkol, "Tidak ada." lalu menutup pintu dengan keras. "Sungguh merepotkan!" keluh Roy pada istrinya. Roy berkata lagi,

"Tetangga yang menyebalkan, kita baru pindah kemari sudah datang untuk pinjam barang, kalau begini terus akan bagaimana jadinya nanti!" Ketika ia sedang menggerutu tak berkesudahan, di pintu terdengar lagi suara ketukan. Pintu dibukanya, si gadis kecil itu masih berdiri di sana, hanya saja kali ini di dalam tangannya membawa dua batang lilin, bercahaya merah, seperti wajah gadis kecil itu yang merah padam, sangat menyolok.

"Nenek bilang, kami telah kedatangan penghuni baru, mungkin tidak membawa lilin, lalu nenek menyuruh saya agar membawakan dua batang lilin ini untuk Anda." Seketika itu juga Roy tertegun, ia terperangah dengan kejadian di depan matanya ini. Dengan sangat tidak mudah ia tersadarkan kembali,

"Terima kasih kepada engkau dan nenekmu, semoga Tuhan melindungi kalian."Seketika itu juga, tiba-tiba Roy menyadari banyak hal, ia sepertinya telah menyadari tentang akar permasalahan dari kegagalan dirinya, yaitu terletak pada kekasaran dan ketidakacuhannya pada orang lain.Di dalam kehidupan ini yang bisa menipu kita acap kali bukanlah orang lain, melainkan adalah sepasang mata kita yang telah dikelabui oleh dinginnya hati kita sendiri. (Mingxin/The Epoch Times /lin)

......Seperti halnya kita suka mengeluh ketika melihat dari jendela bahwa rumah tetangga kotor dan suram, kurang dirawat, kita mengeluh jemuran tetangga tidak bersih dan jorok......sampai kemudian kita sadar bahwa yang kotor dan tidak terawat adalah kaca jendela rumah kita.....dan ketika kita bersihkan, semuanya menjadi sangat berbeda... Bersihkan kaca jendela hati kita, biarlah hati kita melihat terang benderang dan transparan tanpa sekat dan kaca buram yang sering mengganggu cara pandang kita...

Biarlah setiap orang menjadi seperti diri mereka apa adanya, bukan seperti yang kita kehendaki.....

Biarlah orang tua menjadikan anak mereka seperti diri mereka apa adanya dengan jatuh bangunnya dan mimpi harapannya sendiri, bukan seperti yang dikehendaki oleh ambisi orang tua; karena mereka adalah anak panah dan orang tua hanyalah busur di tangan sang Pencipta. ketika anak panah itu lepas dan melesat dari busur pada saatnya, serahkan pada angin dan sang Pencipta yang empunya diri mereka....

Biarkan istri atau suamimu menjadi seperti mereka apa adanya waktu mereka belum berjumpa denganmu.... biarkan sahabat dan temanmu menjadi seperti mereka apa adanya sebelum bertemu denganmu, dan kita akan selalu menikmati keterkejutan dan kekaguman kita pada pribadi yang sangat berbeda dengan kita.....bukan menjadikannya sama seperti yang kita pikir dan bayangkan, seperti yang kita inginkan.... Hanya dengan cara itu kita akan menjadi makin diperkaya, hanya dengan itu kita menjadikan dunia kita lebih indah oleh pelbagai warna pelagi.....mari menyalakan lilin hati.......

08